Minggu, 10 Juni 2018

LAYANAN KONSELING UNTUK PENGEMBANGAN MENTAL SEHAT


LAYANAN KONSELING UNTUK PENGEMBANGAN MENTAL SEHAT

TEORI KONSELING ‘TRAIT & FACTOR”

  • PROSES KONSELING :
    1. Analisis. Tahapan kegiatan yang terdiri dari pengumpulan informasi dan data yang dapat dipercaya, tepat dan relevan untuk mendiagnosis pembawaan, minat, motif, kesehatan jasmani dan keseimbangan emosional klien yang memungkinkan dapat mendukung proses konseling. Analisis dapat dilakukan dengan catatan kumulatif, wawancara, otobiografi, catatan anekdot, test psikologi dsb.
    2. Sintesis. Langkah merangkum dan mengatur data dari hasil analisis sehingga menunjukkan bekat klien, kelemahan dan kekuatannya serta kemampuan penyesuaian dirinya.
    3. Diagnosis. Upaya untuk menemukan ketepatan dan pola yang dapat mengarahkan pada permasalahan, sebab-sebabnya dan sifat-sifat klien yang relevan dan berpengaruh pada proses penyesuaian diri.
                      Langkah diagnosis :

      1. Identifikasi masalah yang sifatnya diskriptif dengan menggunakan kategori :
        1. Kategori Bordin :
          1. Dependence (ketergantungan)
          2. Lack of information (kurangnya informasi)
          3. Self conflict (konflik diri)
          4. Choice anxiety (kecemasan dlm membuat pilihan)
        2. Kategori Pepinsky :
          1. Lack of assurance (kurang dukungan)
          2. Lack of information (kurang informasi)
          3. Lack of skill (kurang memiliki keterampilan)
          4. Dependence (ketergantungan)
          5. Self conflict (konflik diri)
      2. Menentukan sebab-sebab, mencakup hubungan masa lalu, masa kini dan masa depan.
      3. Prognosis, perkiraan-perkiraan logis dan intuitif yang memungkinkan dapat membantu klien untuk mengambil tanggung jawab secara logis meskipun secara emosional belum bisa menerima.

    1. Konseling, hubungan membantu klien untuk menemukan sumber diri dalam upaya mencapai perkembangan dan penyesuaian optimal. Jenis sifat konselingnya adalah :
        • Belajar terpimpin menuju pengertian diri.
        • Mendidik sesuai dengan kebutuhan diri untuk mencapai tujuan kepribadiannya dan penyesuaian hidupnya.
        • Membantu klien supaya mengerti dan terampil dalam menerapkan prinsip dan teknik yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
        • Mendidik klien yang sifatnya katarsis atau penyaluran.
    2. Tindak Lanjut, bantuan menghadapi masalah baru sehingga menjamin keberhasilan konseling.
      TEORI KONSELING RATIONAL EMOTIVE

  • Teknik-Teknik Terapi.

RET menggunakan berbagai teknik yang bersifat kognitif, afektif dan behavioral. Teknik-teknik terapi itu adalah :

    1. Teknik-Teknik Emotif
      1. Teknik Assertif Training, teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong dan membiasakan klien untuk secara kontinyu menyesuaikan diri dengan perilaku tertentu yang diinginkan. Latihan yang diberikan lebih bersifat mendisiplinkan diri.
      2. Teknik Sosiodrama, teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan melalu suasana yang didramatisasikan sehingga klien dapat secara bebas dapat mengungkapkan dirinya secara lisan, tulisan atau gerakan-gerakan dramatis.
      3. Teknik Self Modeling, teknik yang digunakan untuk meminta klien agar memberikan komitmen dengan konselor untuk menghilangkan perasaan atau perilaku tertentu.
      4. Teknik Imitasi, teknik yang digunakan dimana klien diminta menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya yang negatif.
    2. Teknik-Teknik Behavioristik.
      Teknik ini digunakan terutama dalam upaya memodifikasi perilaku-perilaku negatif klien dengan mengubah akar keyakinannya yang tidak rasional dan tidak logis. Teknik-teknik tersebut adalah :
      1. Teknik Reinforcement teknik yg digunakan untuk mendorong klien ke arah perilaku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal atau punishment.
      2. Teknik Social Modeling, teknik yang digunakan untuk memberikan perilaku-perilaku baru pada klien dengan cara imitasi.
      3. Teknik Live Models, teknik yang digunakan untuk menggambarkan perilaku-perilaku tertentu, khususnya situasi-situasi interpersonal yang kompleks dalam bentuk percakapan sosial, interaksi dalam memecahkan berbagai masalah.
    3. Teknik-Teknik Kognitif.
      Teknik ini digunakan untuk mengubah sistem keyakinan yang irasional klien serta perilaku-perilakunya yang negatif. Klien dimodifikasi aspek kognitifnya agar dapat berfikir dengan cara rasional dan logis.
      Teknik-Teknik Kognitif itu antara lain :

      1. Home Work Assigments, teknik pemberian tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri serta menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan sehingga diharapkan klien dapat menghilangkan ide-ide serta perasaan-perasaan yang irrasional dan tidak logis dalam situasi-situasi tertentu.
      2. Teknik Assertive, teknik yang digunakan untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan melalui “role playing” (bermain peran), “rehearsal” (latihan) dan “social modeling” (meniru model-model sosial).
        TEORI KONSELING BEHAVIORAL

  • Methode konseling (menurut Krumboltz) dikategorikan dalam :
    1. Operant learning approach. Hal yang penting dari pendekatan ini adalah penguatan (reinforcement) yang dapat menghasilkan perilaku klien yang dikehendaki. Hal yang harus diperhatikan :
      1. Penguatan yang diterapkan hendaknya memiliki cukup kemungkinan untuk mendorong klien.
      2. Penguatan hendaknya dilaksanakan secara sistematik.
      3. Konselor harus mengetahui kapan dan bagaimana memberikan penguatan.
      4. Konselor harus dapat merancang perilaku yg memerlukan penguatan.       
    2. Unitative learning approach, atau social modeling approach. Pendekatan ini diterapkan oleh konselor dengan merancang suatu perilaku adaptif yang dapat dijadikan model oleh klien.
      Model-model perilaku adaptif bisa dalam bentuk rekaman, video, film, pengajaran berprogram, orang atau biografi.
    3. Cognitive learning approach.Pendekatan ini diterapkan untuk merubah kognitif klien dalam upaya membantu memecahkan masalahnya.
    4. Emotional learning approach. Pendekatan ini dilakukan dalam rangka pembelajaran emosional individu yang mengalami suatu kecemasan. Pelaksanaannya dilakukan dalam suasana rileks dengan menghadirkan rangsangan yang menimbulkan kecemasan bersama dan menyenangkan sehingga kecemasan individu berkurang dan pada akhirnya dapat dihilangkan.

PENGEMBANGAN KESEHATAN MENTAL DI LINGKUNGAN DUNIA KERJA


PENGEMBANGAN KESEHATAN MENTAL DI LINGKUNGAN DUNIA KERJA

  • Lingkungan Kerja → mencegah terjadinya masalah gangguan emosional & memperkecil sumber-sumber yang menyebabkan terjadinya stress.    
    Sumber yg mengakibatkan gangguan mental / emosional atau terjadinya  sress  di lingkungan kerja antara lain :

  1. Frustrasi
  2. Konflik
  3. Mismet profesi kerja
  4. Kompetisi
  5. Beban kerja
  6. Lingkungan fisik tempat kerja
  7. Tidak adanya komunikasi terbuka dll.

  • Kepuasan kerja adalah cara seorang pekerja merasakan pekerjaannya. Teori yang menjelaskan kepuasan kerja antara lain :

  1. Teori Ketidak Sesuaian (Discrepancy Theory)
           Kepuasan atau ketidak-puasan dengan aspek pekerjaan itu tergantung pada selisih antara apa yang sudah didapatkan dengan apa yang diinginkan. Jumlah yg diinginkan adl jumlah minimum yg diperlukan utk memenuhi kebut.
  2. Teori Keadilan (Equity Theory)
           Teori keadilan merupakan variasi dari teori proses perbandingan sosial. Komponen utamanya adalah :

    • Input, sesuatu yang bernilai bagi seseorang yang dianggap mendukung pekerjaannya  sep. pendidikan, pengalaman, kecakapan, jumlah jam kerja dll.
    • Hasil,sesuatu yang dianggap bernilai dari pekerjaannya sep. upah/gaji, penghargaan, status dll.
    • Orang Bandingan, orang dalam organisasi dengan pekerjaan terdahulunya.

  • Keadilan-Ketidakadilan, jika ratio hasil berbanding input seorang pekerja adalah sama atau sebanding dengan ratio orang bandingannya, maka terdapat keadilan dan pekerja mempereoleh kepuasan. Pendidikan : Upah

    • Hubungan sebab-akibat antara kepuasan dan pelaksanaan kerja itu adalah sbb. :
      Hasil yang dihadiahkan → Kepuasan pekerja → Motivasi bagi para pekerja → Pelaksanaan kerja para pekerja.

  • Ketidakpuasan dan Penarikan Diri.
    Ada hubungan yang konsisten antara ketidak-puasan dengan penarikan diri dalam bentuk pindah kerja dan absensi. Perilaku penarikan diri ini mempunyai akibat-akibat yang tdk diinginkan bagi organisasi (kelancaran kerja, penundaan produk, peningkatan beaya “gaji sakit” dll.)

  • Ketidakpuasan dan Agresi.
    Frustrasi yg menyertai ketidakpuasan kerja dpt mengakibatkan perilaku agresif. Bentuknya bisa sabotase, sengaja melakukan kesalahan, pemo-gokan kerja, pelambatan kerja, protes yang ber-lebihan dan tindakan agresi lain.
    Mengapa timbul ketidakpuasan kerja ?

  • Pengawasan yang lemah
  • Kondisi kerja yang lemah
  • Kurangnya keamanan kerja
  • Kompensasi yang tidak adil
  • Kurangnya kesempatan untuk maju
  • Konflik pribadi diantara pekerja

Bagaimana menyembuhkan ketidakpuasan ?

  • Merubah kondisi kerja, pengawasan, kompensasi atau rancangan pekerjaan.
  • Memindahkan pekerja ke pekerjaan yang lain guna mendapatkan pasangan yang lebih baik.
  • Mengubah persepsi atau harapan para pekerja yang tidak puas.

Prefensi terhadap ketidakpuasan kerja.

  • Pengelolaan upah yg baik → menghindari rasa ketidakadilan pekerja.
  • Sistem seleksi dan diklat → menciptakan pasangan yg tepat antara tuntutan pekerjaan dg karekteristik pekerja.

KESEHATAN MENTAL DLM KELUARGA & MASYARAKAT


KESEHATAN MENTAL DLM KELUARGA & MASYARAKAT

Kesehatan Mental dalam Lingkungan Keluarga dipengaruhi oleh :

  1. Kebiasaan, sikap hidup dan filsafat hidup keluarga, misalnya :
    1. Kebiasaan orangtua yang temperamental → defec temperamen dan demoralisasi phisik dan psikis.
    2. Kualitas rumah tangga → delinquensi dan kriminalitas anak, mental disorder pada anak, inferior , giving-up dsb.
    3. Dsb.
  2. Kondisi Sosial-Ekonomi Keluarga → mendorong perilaku kriminal dan a-susila karena ambisi material.
  3. Struktur Keluarga yang abnormal, seperti :
    1. Tidak disadarinya fungsi masing-masing anggota keluarga.
    2. Intimasi anggota keluarga yang renggang.
    3. Perilaku orangtua yang tidak mencerminkan teladan yang baik.
    4. Orangtua tidak mempunyai relasi simbiotik dengan anak.       
      Keluarga yang memproduksi anak menjadi neurotik :

  1. Keluarga yang menuntut kepatuhan total anak → pengembangan mekanisme pertahanan ego (represi, deniel atau penyangkalan,  displecement atau pemindahan pemuasan kebutuhan impuls,  proyeksi dsb).
  2. Dominasi, kekuasaan mutlak dan sikap otoriter orangtua → agresi pada anak, neurotik, illusif, delusif dsb.
  3. Konflik orangtua → tidak merasa aman di lingkungan keluarga → giving-up,  proyeksi, fixatie dsb.
  4. Pola hidup orangtua yang tidak konstan dan tidak stabil → splitted personality, multiple personality yang neurotik.
    Pengaruh Keluarga terhadap kesehatan mental.

  1. Keberfungsian Keluarga
                    Menurut Stinned dan John de Frain

      1. Terciptanya kehidupan beragama dalam keluarga
      2. Tersedianya waktu bersama dalam keluarga
      3. Terciptanya komunikasi yang baik antar keluarga
      4. Saling menghargai  antar sesama anggota keluarga
      5. Ikatan kekerabatan yang erat dan kuat
      6. Mengutamakan kepentingan keluarga diatas kepentingan pribadi
                        Menurut Alexander A. Schniders :

      1. Minimnya perselisihan antar orangtua atau orangtua-anak
      2. Ada kesempatan untuk saling menyatakan keinginan
      3. Penuh kasih sayang
      4. Penerapan disiplin yang tidak keras
      5. Ada kesempatan bersikap mandiri dlm berfikir dan berperilaku
      6. Saling menghormati dan menghargai antara orangtua & anak.
      7. Ada musyawarah keluarga dlm memecahkan kesulitan.
      8. Terjalin kebersamaan dalam keluarga
      9. Emosi orangtua stabil
      10. Ekonomi kecukupan
      11. Mengamalkan nilai-nilai moral dan agama
        Menurut Dadang Hawari, anak yang dibesarkan dalam keluarga yg mengalami disfungsi mempunyai resiko lebih besar akan terganggu tumbuh kembang jiwanya. Ciri keluarga yang mengalami disfungsi :

  1. Kematian salah satu atau kedua orangtua
  2. Kedua orangtua bercerai (divorce)
  3. Hubungan kedua orangtua tidak baik (poor marriage)
  4. Hubungan orangtua dengan anak tidak baik (poor parent-child relationship)
  5. Suasana rumah tangga yang tegang dan tanpa kehangatan
  6. Orangtua sibuk dan jarang di rumah
  7. Salah satu atau kedua orangtua mempunyai kelainan kepribadian.

Menurut Stephen R. Covey, perubahan situasi keluarga yang menyebabkan disfungsi itu adalah :

      1. Anak yang lahir dari hubungan yang tidak syah (1997 anak yg lahir di luar nikah meningkat 400 %).
      2. Single Parent (anak asuhan single parent berlipat ganda).
      3. Perceraian (gugatan istri 68 % dan diceraikan suami 32 %).
      4. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT meningkat).
      5. Seks bebas dan komersialisasi seks meningkat
        Hubungan Karakteristik Emosional dan Pola Perilaku Keluarga thdp
        Struktur Kepribadian Remaja (Peck Loree) :

    1. Remaja yang memiliki ego strenght (kematangan emosional, perilaku rasional, persepsi diri dan sosial yang akurat) berhubungan dg lingkungan keluarga yang saling mempercayai dan menerima.
    2. Remaja yang memiliki superego strenght berkaitan erat dengan keteraturan dan konsistensi kehidupan keluarganya.
    3. Remaja freindliness dan spontanity berhubungan erat dengan iklim keluarga yang demokratis.
    4. Remaja yg bersikap bermusuhan dan memiliki perasaan gelisah atau cemas berkaitan erat dengan keluarga yang otoriter.

PENGARUH AGAMA TERHADAP KESEHATAN MENTAL


PENGARUH AGAMA TERHADAP KESEHATAN MENTAL

PENGERTIAN PENGARUH

  • Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 849), “Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang atau benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang.”
  • Surakhmad (1982:7) menyatakan bahwa  pengaruh adalah kekuatan yang muncul dari suatu benda atau orang dan juga gejala dalam yang dapat memberikan perubahan terhadap apa-apa yang ada di sekelilingnya.
  • Jadi, dari pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pengaruh merupakan suatu daya atau kekuatan yang timbul dari sesuatu, baik itu orang maupun benda serta segala sesuatu yang ada di alam  sehingga mempengaruhi apa-apa yang ada di sekitarnya.
    FUNGSI AGAMA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

  1. Agama dalam kehidupan individu.
              Agama bagi individu sbg sistem nilai yang memuat norma-norma tertentu. Menurut Mc Guire (26), sistem nilai yang berdasarkan agama dapat memberikan individu perangkat sistem nilai dalam bentuk keabsahan dan pembenaran dalam mengatur sikap individu. Meneurut Kaswardi (1993, 20), Agama sebagai sistem nilai memiliki pengaruh dalam mengatur pola tingkah laku, pola pikir dan pola bersikap (intelektual, emosional dan behavioral).
              Nilai adalah prinsip yang menjadi motivasi dalam hidup, yang memberi makna dan pengabsahan pada tindakan sehingga individu rela berkorban (jiwa, raga, harta).
              Sebagai sistem nilai, motivasi dan pedoman hidup, pengaruh yang paling penting dari agama adalah sebagai consience (kata hati), yang menurut Erich Fromm (1988, 110) sebagai penggilan kembali manusia pada dirinya, atau menurut Shaftesury sebagai rasa moral dalam diri manusia berupa rasa benar dan salah, atau menurut filsafat skolastik sebagai kesadaran akan prinsip-prinsip moral.
    Conscience  dikategorikan dalam :

    1. Otoritarian conscience, yang dibentuk oleh pengaruh luar, yang berkaitan dengan kepatuhan, pengorbanan diri dan tugas-tugas manusia atau penyesuaian sosialnya.
    2. Humanistic conscience, bersumber dari dalam diri sendiri, pernyataan kepentingan diri dan integrasi manusia(EF, 112-123)
      Pendekatan agama (Islam) melihat conscience sebagai potensi dasar yang memberi arah dalam kehidupan, yang disebut fitrah. Potensi tersebut berupa :

    1. Hidayat al ghariziyyat (naluri).
    2. Hidayat al Hissiyyat (inderawi).
    3. Hidayat al aqliyyat (nalar).
    4. Hidayat al Diniyyat (agama).
      Potensi Fitrah ↔ Lingkungan → memberi bimb. Pengembangan yg sejalan dg lingkungan → terjadi keselarasan.
                     → dipertentangkan  dg lingkungan → ketidak seimbangan diri.
                     Pengaruh agama dalam kehidupan individu adalah memberi kemantapan batin, rasa bahagia, rasa terlindung, rasa sukses dan rasa puas sehingga agama menjadi motivasi, nilai etik & harapan.
      Sebagai Motivasi, agama mendorong individu untuk melakukan aktivitas yang dilatarbelakangi oleh keyakinan agama sehingga aktivitas tsb mempunyai nilai kesucian dan ketaatan yang tulus.
      Sebagai nilai etik, agama memberikan norma-norma yang boleh dan yang yang tidak boleh, yang baik dan yang buruk untuk dilakukan.
      Sebagai harapan/asa, agama memberikan harapan yang menyenang-kan ketika melaksanakan perintah agama.

  1. Agama Dalam Kehidupan Masyarakat.
              Masalah agama tidak mungkin dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat karena norma-norma ajarannya sangat diperlukan oleh masyarakat. Setidaknya berfungsi :

    1. Edukatif. Ajaran agama mendidik ummatnya untuk taat terhadap ajarannya, baik berkaitan dengan unsur perintah maupun larangannya sehingga agama mendidik dan membimbing agar pribadi penganutnya menjadi baik.
    2. Penyelamat. Keselamatan yang diberikan agama adalah keselamatan duniawi dan ukhrawi.
    3. Perdamaian. Orang yang berperilaku salah → berdosa → dapat di ampuni dg bertaubat.
    4. Social Control. Penganut agama terikat dengan ajaran agama sehingga agama berfungsi pengawasan sosial karena :

      1. Agama secara instansi merupakan norma bagi ummatnya
      2. Secara dogmatis (ajaran) mempunyai fungsi kritis yang bersifat profetis (samawi).

    1. Pemupuk solidaritas. Secara psikologis penganut agama akan merasa memiliki kesamaan dalam kesatuan, yaitu keimanan dan kelembagaan agama sehingga rasa persaudaraan se agama bahkan bisa mengalahkan rasa kebangsaan.
    2. Transformatif. Ajaran agama bisa mengubah kepribadian individu atau masyarakat menjadi kepribadian yang sesuai dg ajaran agama, bahkan mampu mengubah kesetiaan thd adat atau norma kehidupan sebelumnya.
    3. Kreatif. Ajaran agama mendorong dan mengajak penganutnya untuk bekerja produktif untuk dirinya dan ummat sehingga dituntut untuk melakukan kegiatan kreatif-inovatif.
    4. Sublimatif. Ajaran agama menuntunkan bahwa semua usaha dan/atau kegiatan yang dimotivasi oleh Iman dan Kebaikan merupakan ibadah
      PENGARUH AGAMA (daya membentuk watak, kepercayaan/perbuatan)

  1. Membentuk kepribadian – Iman, Islam dan Ihsan dalam pola pikir, sikap, perasaan dan perilakunya.
  2. Mengubah perilaku yang bersifat negatif (munkar, maksiyat, fahsya’ dsj)  menjadi perilaku yang positif (ma’ruf, khoir, muhsin dsj) dalam kehidupan seseorang atau sekelompok orang.
  3. Menguatkan kesehatan mental karena dengan agama tumbuh kecenderungan berpikiran, berperasaan dan berperilaku yang normal, wajar, terpuji, tenang dan tenteram.

PENYEBAB, AKIBAT & COPING STRES


PENYEBAB, AKIBAT & COPING STRES

TEORI DASAR PENYEBAB STRES

  1. Variabel Stimulus, variabel yang mengkonsepsikan stres sebagai suatu stimulus atau tuntutan yang mengancam (berbahaya) dan dpt mengakibatkan sakit. Maka stres dalam hal ini disebabkan oleh stimulus eksternal.
  2. Variabel Respon atau phisiological approach (pendekatan fisiologis), mekanisme respon tipikal tubuh dalam merespon rasa sakit sehingga menimbulkan stres. Jadi stres dalam hal ini disebabkan oleh cara merespon suatu peristiwa.
    Respon terhadap stres, dibedakan dlm :

  1. Respon Emosional, menyatakan bahwa terdapat korelasi antara stres dengan suasana hati (mood), meliputi perasaan kesal, marah, cemas, takut, murung, sedih, duka cita dll.
  2. Respon Fisiologis, terdiri dari :
    1. The Fight or Flight Response, reaksi fisiologis terhadap ancaman dengan memobilisasi organisme untuk melawan (flight) atau melarikan diri, menghindar dari sesuatu yang membahayakan.              
    2. The General Adaptation Syndrome, respon tubuh thd stres
  3. Variabel Interaktif, meliputi teori :
    1. Teori Interaksional, teori yang mengfokuskan pembahasan pada aspek (a) keterkaitan antara individu dg lingkungannya, dan (b) hakekat hubungan antara tuntutan pekerjaan dengan kebebasan mengambil keputusan.
    2. Teori Transaksional, teori yg mengfokuskan pembahasannya kepada aspek kognitif dan afektif individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Tokoh teori ini (Lazarus) menyatakan stres itu sebagai hasil (akibat) dari ketidak-seimbangan antara tuntutan dan kemampuan.
      FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STRES

    1. Stressor Fisik Biologik, sep. cacat fisik, penyakit yg sulit disembuhkan, wajah tidak cantik/tampan dll.
    2. Stressor Psikologik, sep. negative thinking, frustrasi, hasud, sikap permusuhan, rasa cemburu, konflik pribadi dll.
    3. Stressor Sosial, terdiri dari :
      1. Iklim Kehidupan Keluarga, sep. broken home, perceraian, suami/istri meninggal, anak yg nakal dll.
      2. Faktor pekerjaan, sep. kesulitan mencari pekerjaan, pengangguran, PHK dll. 
      3. Iklim Lingkungan, sep. maraknya kriminali tas, tawuran, motor gang, harga kebutuh-an pokok mahal, kemarau panjang, per-ubahan cuaca dll.
        Keterkaitan stressor, respon dan dampak stres :
        Stressor → Persepsi → Respon Emosi  (rasa marah, rasa cemas, rasa takut,                                                      kehilangan semangat, duka cita).  → Respon Fisik.  (perubahan biokimia tubuh dan  fluktuasi hormonal).    → Respon Perilaku.
        AKIBAT STRES

      1. Frustrasi; ketegangan jiwa yang tidak menyenangkan disertai kecemasan dan kegiatan simpatetis yang disebabkan oleh hambatan. Misalnya cemas neurotik, seperti takut turun dari pesawat karena takut di Makkah mendapat hukuman atas dosanya. Frustrasi harus direaksi secara positif, seperti mobilisasi, resignasi (tawakal), kompensasi, sublimasi dll.
      2. Konflik; pertentangan dalam psiche yang disebabkan oleh kompleksitas persoalan yang dihadapi seseorang dan tidak mampu menyelesaikannya, yang ditandai dengan :

      • Temperamental atau agresive afectivity           
      • Fixatie, sep. tdk bersemangat hidup
      • Rationalisasi, pembenaran diri sehingga cenderung “ngeyelan”
      • Proyeksi atau su’udz dzan.
      • Narsisme, cinta diri yang ekstrem, sep. ria’, kibir, ujub dll.
      • Neurosis, kecemasan tak terkendali.

      1. Krisis, keadaan yang mendadak stres karena sesuatu yang merugikan atau menyenangkan secara tiba-tiba
        PENGELOLAAN STRES.
        Pengelolaan stres sering disebut dengan COPING “proses mengelola tuntutan (internal dan eksternal) yang ditaksir sebagai “Beban” karena diluar kemampuan diri individu (Lazarus dan Folkman) atau upaya untuk mengatasi, mengurangi atau mentoleransi ancaman yang menjadi beban perasaan yang terjadi karena stres (Weiten & Lloyd).
        FAKTOR YANG MEMPENGARUHI COPING :

  1. Dukungan sosial, pemberian bantuan terhadap seseorang yg mengalami stres dari orang lain yang memiliki hubungan dekat.
    Fungsi dukungan sosial adalah (House, 1981) :

    1. Emotional Support (perhatian, kepedulian).
    2. Appraisal Support (pengemb.  kesadaran).
    3. Informational Support (nasehat/diskusi dan pemberitahuan).
    4. Instrumental Support (bantuan material).

  1. Kepribadian, termasuk didalamnya adalah :

  1. Hardiness (ketabahan, komitmen, internal locus control dan sadar akan tantangan    atau chalange).
  2. Optimism (kecenderungan mengharapkan hasil yang baik).

Untuk mengukur optimism, Charles Carver (1985) menggunakan LOT (Life Orientations Test) sebagai instrumen dengan alternatif jawaban “True” and “False”.

  1. Humoris, toleran dalam menghadapi stress. Carver dkk mengembangkan pengukuran yg dikenal dengan “THE COPE”, yang meng-identifikasi 14 strategi, respon atau kategori coping (dg jawaban tidak pernah, jarang, sering dan selalu). Contohnya adalah :
    Strategi Coping :

  1. Coping aktif, seperti “Saya melakukan suatu kegiatan untuk melepaskan diri dari masalah”.
  2. Perencanaan, seperti “Saya membuat rencana untuk melakukan suatu kegiatan”.
  3. Skala Prioritas, seperti “Saya menunda kegiat-an lain agar berkonsentrasi thd satu kegiatan”.
  4. Menahan diri, seperti “Saya menahan diri dg cara menunggu waktu yang tepat untuk melakukan suatu kegiatan”.
  5. Mencari dukungan instrumental, seperti “Saya bertanya kpd orang lain yg punya pengalaman sama ttg bagaimana cara mengatasi masalah”
  6. Mencari dukungan emosional, seperti “Saya membicarakan ttg apa yang saya rasakan kpd orang lain”.
  7. Menafsirkan situasi secara positif, seperti “Saya menilai sesuatu secara positif”.
  8. Menerima kenyataan, seperti “Saya belajar hidup secara apa adanya”.
  9. Kembali ke Agama, seperti “Saya memohon pertolongan kepada Tuhan”.
  10. Melepaskan emosi, seperti “Saya mengekspre sikan perasaan negatif saya”.
  11. Menolak sesuatu yang mungkin terjadi, seperti “Saya tdk mempercayai ttg apa yang terjadi”.
  12. Melakukan sesuatu kegiatan, seperti “Saya melakukan suatu kegiatan untuk memperoleh apa yang saya inginkan”.
  13. Melepaskan beban mental, seperti “Saya kem-bali bekerja atau melakukan kegiatan lain agar terlepas dari pikiran yang membebani saya”.
  14. Melepaskan tekanan dengan minuman keras atau obat terlarang, seperti “Saya meminum alkohol atau mengkonsumsi obat agar lepas dari beban perasaan yang saya alami”.
    Coping terdiri dari :

  1. Coping Negatif, terdiri dari :
    1. Giving up (melarikan diri dari kenyataan).
    2. Indulging your self (memanjakan diri sendiri)
    3. Blaming your self (mencela diri sendiri)
    4. Defence mechanism (mekanisme pertahan-an diri). Bentuknya :
      1. Menolak kenyataan.
      2. Berfantasi.
      3. Rasionalisasi.
      4. Over kompensasi.
  2. Coping Positif, terdiri dari :
    1. Menghadapi masalah secara langsung dlm upaya memecahkan.
    2. Menilai situasi berdasarkan pertimbangan rasional.
    3. Mengendalikan diri (self control) dalam menghadapi masalah.
      METHODE COPING KONSTRUKTIF

  1. Rational-Emotive Therapy, pendekatan terapi yang mengfokuskan kepada upaya untuk mengubah pola berfikir klien yang irrasional sehingga dapat mengurangi gangguan emosi atau perilaku yang maladaptif (Albert Ellis)              
           Menurutnya, reaksi emosional yang bermasalah bersumber dari “self-talk” yang negatif, yang dinamakan “cathastropic thinking” (penilaian terhadap stres secara tidak realistik sehingga memicu meningkatnya masalah).
    Penilaian secara tidak realistik itu bersumber dari pikiran atau asumsi yang irrasional, seperti :

    1. Saya harus dicintai atau dikasih sayangi oleh semua orang
    2. Saya harus tampil sempurna dalam setiap keadaan.
    3. Orang lain harus memperlakukan saya dengan baik.
    4. Segala sesuatu harus berlangsung sesuai dengan yang saya inginkan.
                      Karena realitas # keinginan, maka pemikiran ini rentan stres.

  1. Meditasi, latihan mental untuk menfokuskan kesadaran atau perhatian dengan cara yang non-analisis (Weiten). Bentuknya : Yoga, Zen dan Transcendental (Hindu, Budha dan Tao), sedangkan Islam berbentuk Dzikir dengan teknik “duduk dalam posisi bersila, penuh konsentrasi membaca do’a atau dzikir” sehingga dapat meningkatkan energi, kesehatan, hub. interpersonal, kepuasan, kebahagiaan dan mereduksi ketegangan dan/atau kecemasan yang disebabkan oleh stress”.
  2. Relaksasi, mengendorkan ketegangan fisik dan psikis guna mereduksi masalah fisiologis (gangguan atau penyakit fisik) dan mengatasi kekalutan emosional. Tekniknya :

    1. Duduk dengan tenang dalam posisi yang nyaman.
    2. Tutup mata dengan rilek.
    3. Buat rilek semua otot, mulai dari kaki sampai wajah.
    4. Bernafas pelan melalui hidung dan keluarkan melalui mulut dengan pelan pula.
    5. Lakukan selama 10 sampai 20 menit.

  1. Mengamalkan Ajaran Agama
           Kualitas keimanan seseorang dapat diukur dari kualitas ibadahnya. Seseorang yang taat beribadah dan memahami makna substansi ibadahnya, ia akan memiliki kepribadian yg positif sehingga akan mampu mengelola hidup dan kehidupannya secara sehat, bermanfaat dan bermakna. Bentuknya,syukur, tawakkal, qona’ah dsb
    Konsep Pokok Terapi Rasional Emotif :
    Bahwa banyak perilaku emosional individu yang berpangkal pada “selftalk” atau “omong diri”, yaitu orang yang menyatakan  kpd dirinya sendiri tentang pikiran dan emosi yang bersifat negatif. Hal itu karena :

      1. Terlalu bodoh untuk berfikir secara jelas.
      2. Cerdas tetapi tidak tahu bagaimana berfikir secara cerdas  dan jelas dalam hubungannya dengan keadaan emosi.
      3. Cerdas dan cukup berpengetahuan ttp terlalu neurotik untuk menggunakan kecerdasan dan pengetahuan scr memadai.
        Teknik Terapi :

    1. Teknik emotif (afektif) :
      1. Teknik Assertive Training, teknik untuk melatih, mendorong dan membiasakan klien untuk secara terus menerus berperilaku tertentu sebagaimana diinginkan.
      2. Teknik Sosiodrama, teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan melalui suasana yang didramatisasikan sedemikian rupa sehingga klien bebas mengemukakan dalam bentuk apapun.
      3. Teknik Self Modeling, teknik untuk meminta klien berjanji atau mengadakan komitmen utk menghilangkan perasaan atau perilaku tertentu.
      4. Teknik Imitasi, teknik peniruan secara terus menerus untuk menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif.
    2. Teknik Behavioristik
      1. Teknik Reinforcement (penguatan), teknik utk mendorong klien kearah perilaku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) atau punishment.
      2. Teknik Sosial Modeling, teknik untuk memberikan perilaku baru pada klien.
      3. Teknik Live Models, teknik untuk menggambarkan perilaku tertentu, khususnya situasi interpersonal yang komplek dlm bentuk percakapan sosial, interaksi dalam memecahkan masalah.
    3. Teknik Kognitif
      1. Home Work Assigments (Pemberian Tugas Rumah), teknik untuk melatih, membiasakan diri dan mengimplementasikan sistem nilai tertentu yang menurut pola perilaku dibutuhkan.
      2. Teknik Assertive, teknik untuk melatih keberanian klien dlm mengekspresikan perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan melalui role playing atau bermain peran, rehearsal atau latihan dan social modeling atau meniru model sosial.